Ketika kehilangan sesuatu yang amat sangat kita sayang dan sesuatu yang telah dibangun dengan susah payah, pastinya kita akan dihadapi dengan kesedihan yang berkepanjangan. Tapi, bagaimana kita menyikapi setelahnya?

Hai, kamu yang membaca tulisan ini. Senang sekali rasanya kita bisa bertemu kembali meski hanya lewat tulisan. Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca tulisan ini dan terima kasih juga untuk kamu yang sudah mendukungku lewat traktiran kopi. Baiklah, mari kita lanjutkan tulisan ini.

***

Ini cerita tentang kehilangan. Paling berat dan paling menyedihkan, bagiku. Terjadi dua kali dengan kondisi yang sama namun di waktu yang berbeda. Dan inilah caraku menyikapinya.

Sebelum buku ‘Distraksi Patah Hati’ meluncur ke publik pada akhir tahun 2017, ada kisah pilu yang terjadi; tepatnya di akhir November 2016. Kisah pilu yang membuatku harus menunda terbitnya buku, kisah pilu yang mengharuskanku bekerja lebih keras menyelesaikan naskah buku. Iya, dengan terpaksa. Aku kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku, kehilangan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diriku. 

Kala itu, aku sedang dilibatkan menjadi tenaga pengajar untuk membimbing anak didik yang ada di komunitas 1001buku. Saat itu mereka sedang ditugaskan membuat satu buku. Proyek kolektif dengan tujuan mengasah skill anak-anak di sana yang mayoritas berasal dari keluarga menengah ke bawah. Aku ditugaskan menjadi pendamping dan memberi arahan dalam hal kepenulisan. Sebuah pengalaman yang menyenangkan untukku.

Iya, menyenangkan. Karena pada saat itu aku juga sedang mengalami kehilangan; orang yang kucinta memilih menikah dengan seseorang yang bukan aku. Tapi, bukan kehilangan itu yang sedang kuceritakan. Bagiku kehilangan seperti ini sudah biasa, bukan kehilangan yang luar biasa. Meski ada rasa sedihnya, terlibat dalam proyek itu ampuh mengalihkan pikiranku agar tak lagi mengingat-ingat bayang tentangnya. 

Kehilangan kali ini jauh lebih berat dari ditinggal nikah; aku kehilangan laptop yang sudah menemaniku meniti karier sebagai penulis. Hilangnya di commuter line, ketika aku hendak pergi mengajar anak-anak 1001buku.

***

Pagi menjelang siang, aku sudah bersiap-siap pergi menuju sekretariat yang saat itu letaknya tak jauh dari menara air manggarai. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat, sesampainya di Stasiun Bogor, dengan segera aku menaiki gerbong kereta. Aku menyusuri beberapa gerbong, mencari bangku kosong. Tak membutuhkan waktu lama, aku menemukannya di gerbong enam commuter line dengan jurusan Bogor – Jakarta Kota. 

Aku duduk persis di dekat pintu; lokasi yang paling ideal untuk bersandar. Sebelum duduk dengan sempurna, aku membuka tas yang kubawa, mengambil buku yang akan kubaca hari itu. Kemudian, tas itu kutaruh di atas, tempat yang biasanya digunakan untuk menaruh barang bawaan. Aku kembali duduk dan membuka lembaran yang tertunda dari novel Siti Hajar karya Sibel Eraslan. Tak lupa juga menyumpal kedua telinga dengan earphone. Meski tak ada lagu yang menyala, hal ini cukup ampuh untuk meredam suara dari luar dan juga supaya tak diajak bicara oleh penumpang lain. Maklum, anaknya anti sosial yang tak begitu nyaman bicara dengan orang yang tak dikenal.

Stasiun tujuanku adalah Tebet. Perjalanan yang mesti kutempuh kurang lebih menghabiskan waktu sekitar satu jam; waktu yang panjang dan membosankan jika tak melakukan apapun. Membaca adalah strategi mengusir rasa sepi di tengah ramainya penumpang kereta. Membuatku larut dalam dunia yang berbeda sehingga mengabaikan dunia sekitar. Eits, bukan berarti aku mengabaikan penumpang prioritas yang tak dapat tempat duduk, tetapi memang saat itu gerbong enam masih jauh dari kata padat.

Pengeras suara dalam kereta memberikan informasi kalau kereta sudah tiba di Stasiun Cawang; daerah yang kata salah satu komika memiliki tiga distrik, Cawang Bawah, Cawang Atas, Cawang KAMUUUU~ huahahauahauahauaaa

Pintu terbuka dan kembali tertutup dengan jeda waktu kurang lebih dua menit. Aku yang menyadari sesaat lagi akan sampai, dengan lekas aku menghentikan aktifitas. Aku bangkit dari bangku untuk mengambil tas; memasukkan buku yang kubaca ke dalamnya. Ketika menoleh ke atas, tak kutemukan wujudnya. Sedikit panik, aku langsung bertanya ke penumpang lain yang duduk di sebelahku. Siapa tahu ia melihatnya. Namun nihil, penumpang itu tak melihatnya dan ia juga berkata kalau sejak ia duduk memang tak ada tas di atas. Aku percaya dengan ucapan penumpang itu, karena aku juga sadar kalau ia belum lama duduk di sebelahku.

Aku paham betul kalau tasku telah lenyap di tangan pencuri, namun aku mencoba menyusuri gerbong ke arah depan kereta melaju. Tujuanku mencari petugas untuk meminta bantuan. Tiga gerbong kulewati, tak ada petugas sama sekali. Karena ada pembatas yang menandakan gerbong buntu, aku kembali ke gerbong awal dan menanyakan orang-orang di sekitar. Jawaban mereka sama, tak melihat dan tak memperhatikan adanya gerak-gerik yang mencurigakan. 

Akhirnya, pengeras suara menyampaikan kalau kereta sudah tiba di Stasiun Tebet. Aku segera turun. Untungnya terlihat satu petugas berdiri tepat di depan pintu keluar. Segera aku bertanya “Mas, kalau mau mengurus barang yang hilang di kereta, harus ke mana, ya?” petugas itu menjawab, “hilang atau ketinggalan, Mas?” “Hilang, Mas. Kalau ketinggalan kan aku bisa naik lagi buat ngambil” balasku santai. Lalu petugas itu memberitahuku untuk mendatangi pusat informasi yang ada di dekat pintu keluar stasiun. Petugas itu juga menyampaikan supaya aku memberitahu kereta yang kunaiki kepada petugas di pusat informasi. Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera pergi.

Dengan santai, aku berjalan menuju pusat informasi. Iya, santai. Meski hati berkecamuk, aku mencoba untuk tetap tenang. Sesampainya di sana, aku bertanya solusi apa yang bisa mereka berikan atas kehilangan ini. Ternyata, tak ada solusi yang menguntungkan. Kehilangan barang tak bisa mereka atasi. Kalau tertinggal masih ada kemungkinan untuk diselamatkan. Tapi kalau sudah hilang dicuri, ya wassalam alias salah sendiri kenapa tak menjaga barang di tengah-tengah manusia yang beragam.

Saat itu, petugas seolah tak percaya aku kehilangan barang. Sebab aku terlalu santai dan tak terlihat panik. Ya lagi pula buat apa aku panik dalam kondisi seperti ini? Kan panik tak akan membuat masalah jadi membaik. Apalagi marah-marah, kan marah enggak bisa bikin barang yang hilang itu kembali dengan sendirinya. Apalagi menangis, hahaha, tak akan jadi solusi.

Petugas bertanya apa saja barang yang hilang. Kukatakan isi yang ada dalam tasku; laptop, kamera, samsung gear fit, hard disk, dan beberapa buku. Isi yang tak bisa dibilang murah. Apalagi tas itu masih terbilang baru, belum ada seminggu kubeli. Tapi mau bagaimana lagi? Emang sudah nasib. Yang bisa kulakukan hanya menerimanya dengan lapang dada. Memang ada kesalnya, ada sedihnya. Tapi kan enggak jadi solusi jika aku melarutkan diri pada rasa kesal dan sedih. Memang, yang disayangkan dari kehilangan ini adalah laptop yang berisi naskah buku yang sedang kutulis. Aku selalu mencadangkan data ke tempat lain, berjaga-jaga siapa tahu ada masalah. Tapi aku mencadangkan data itu ke hard disk. Iya, hard disk; yang juga ikut hilang di hari itu.

Setelah kejadian itu, aku tetap melanjutkan agenda awalku. Pergi menuju sekretariat rumah baca 1001buku, mendampingi anak-anak yang sedang berusaha menyelesaikan buku mereka. Kemudian balik ke Bogor, bertemu dengan beberapa orang yang mengajak untuk bertukar pikiran. Seolah-olah tak terjadi apa-apa.

***

Gimana? Masih betah membacanya? Apa sudah bosan?
Masih ada cerita kedua sebelum menuju akhir.

***

Masih sama-sama perihal kehilangan, namun kali ini belum lama terjadi. 

Sekitar bulan agustus lalu, aku yang saat itu baru saja menyelesaikan draft pertama naskah film untuk sebuah proyek film daerah, ingin kembali melarutkan diri pada draft naskah buku yang sudah direncanakan terbit pada oktober lalu. Pengerjaan sudah 90%, tinggal menyelesaikan bagian akhir. Namun, ketika membuka file, aku tak melihat dokumen naskahku. Perlu diketahui, aku sudah belajar dari kejadian lalu, kejadian di atas ketika aku kehilangan sebagian dari diriku. Aku mengerjakannya di google document yang jelas aman. Bisa dikerjakan kapanpun dan di manapun selama terkoneksi dengan internet. Jadi, jika kejadian yang dahulu terulang, jelas aku tetap bisa mengerjakannya meski device-nya berbeda.

Tapi, ajaibnya, kali ini benar-benar tak terkira.

File dokumen itu juga kubagikan pada editorku agar ia bisa memantau, sambil sesekali memberikan catatan untuk direvisi. Dengan segera aku menghubunginya; siapa tahu dokumen itu bisa ia lihat. Sayang, nihil. Ia juga tak menemukan dokumen itu di email-nya. Deghh, panik. Naskah yang sudah hampir selesai mendadak lenyap. Sesaat kemudian, editorku kembali menghubungiku. Ia memberitahu kalau ternyata dokumen itu dibuat olehnya, menggunakan email-nya. Tapi, itu email yang ia gunakan dipenerbit yang lama. Memang email khusus disediakan oleh kantor. Karena ia sudah pindah penerbit, email itupun dihapus. Iya, email-nya dihapus, yang otomatis melenyapkan semua data-data di dalamnya.

Ajaib, bukan?

Sungguh di luar perkiraan. Aku bahkan tak terbayang hal ini akan terjadi. Kupikir mengerjakannya lewat google document sudah paling aman. Nyatanya, naskah yang hampir selesai itu lenyap begitu saja. Editorku sempat mengusahakan agar email itu dipulihkan untuk sekadar mengambil data draft naskahku. Ia meminta tolong ke tim IT penerbit yang lama. Namun nihil. Tak bisa. Memang sudah nasibnya.

***

Beruntunglah orang-orang yang pernah merasakan berbagai macam kehilangan. Itu menjadikan hatinya lebih kuat dan menjadikan dirinya lebih tabah.

Kehilangan benda berharga dan karya yang sudah dibuat dengan susah payah memang berat. Tapi, larut dalam sesal bukan solusi. Seperti yang kubilang, tak menjadikan yang hilang akan kembali; yang bisa dilakukan hanya menerimanya menjadi pengalaman berharga yang bisa dipetik hikmahnya, kemudian kembali memulai dari awal. Karya yang telah hilang, tak ada yang bisa dilakukan selain menulisnya kembali. Entah dalam bentuk karya yang baru atau tetap pada konsep yang sama. Bersedih dan menyesali tak akan mendapat apapun selain membuang-buang waktu yang mestinya digunakan untuk bangkit dan memulai semuanya kembali. Berat memang, tetapi itulah satu-satunya cara.

Kehilangan adalah pengingat kalau di dunia ini tak ada yang abadi. Semua fana; bisa rusak, hilang, atau mati. Bergantung pada sesuatu artinya kita harus siap merasakan kecewa paling dahsyat. Rasa kecewa yang bisa saja menyebabkan kita jadi gila kalau tak siap dengan risikonya. 

Aku juga menyadari kalau barang-barang yang pernah hilang, hak miliknya tidak ada padaku. Itu hanya nikmat yang Tuhan titipkan. Setelah masanya habis, aku harus siap menerima jika suatu waktu nikmat itu ditarik kembali. Kan Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik dari kita. Ketika Ia mengambil sesuatu, tentu ada hal lain yang sudah dipersiapkan sebagai gantinya. 

Ketika kehilangan laptop dan barang lainnya, waktu itu aku juga sedang pusing bergelut dengan naskah. Pusing yang benar-benar pusing. Saat itu aku ditawari oleh salah satu penerbit Indonesia dan aku bingung harus menulis apa. Ketika menulis, aku tak menuliskannya dengan hati. Jadi, naskahnya terasa aneh sekali. Setelah kehilangan itu, aku pun mulai serius dalam menggarap naskahku; lebih menyertakan hatiku. Dan akhirnya, jadilah buku ‘Distraksi Patah Hati’ yang kala itu sudah menyebar ke berbagai penjuru. Bahkan peluncuran bukunya dilakukan di dua tempat yang berbeda; Gramedia Matraman dan Gramedia Depok bersama Boy Candra. Benar-benar tak terduga, bukan?

Nah, untuk naskah yang hilang baru-baru ini, rasanya ini tanda-tanda bukuku akan selesai dan segera rilis. Tapi, sudah dipastikan tidak di tahun ini, karena aku sudah mengontak editorku untuk menunda terbit di tahun ini. Aku belum siap sepenuhnya menulis buku. Ini saja masih berusaha membangun konsistensi dan membangun feel agar bisa menulis seperti dulu; menulis lepas dengan hati, menulis tanpa berharap apa-apa selain bisa memberikan makna pada pembaca.

Terakhir, sebelum menutup tulisan ini, aku berdoa semoga hal-hal baik selalu menyertai kita. Kalaupun ada hal yang nyatanya tak sesuai harapan, tak apa. Hadapi dan jalani dengan tabah. Jangan larut dalam perasaan negatif. Sedih boleh, tapi jangan lama-lama. Jangan sampai membuang-buang waktu, sebab dunia ini tetap berputar. Dunia tak akan berhenti sejenak menanti kita untuk bangkit. Kita yang harus menolong diri kita sendiri untuk keluar dari lubang keterpurukan.

Sekian tulisanku hari ini.
Semoga kita bisa bertemu lagi di tulisan-tulisan selanjutnya.

ditulis hari jum’at, tanggal 25 november 2022, menjelang pukul tujuh malam, di kota medan.

Dukungan untuk Penulis

Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!

Tinggalkan komentar