aku layak nggak sih?

Mendapatkan tawaran wawancara oleh salah satu stasiun televisi swasta Indonesia untuk program Youtube mereka membuatku minder dan bertanya-tanya “apakah aku layak menerimanya?”

Sudah dua hari aku tak menulis di sini. Ada beberapa kendala yang kualami, salah satu yang paling besar dan menghambat adalah device menulisku mendadak rusak. Sesaat ia hidup, lalu macet seperti jalanan Ibu Kota dan kemudian mati tiba-tiba seperti rakyat kecil yang sedang mencari keadilan di negara Wakanda. Untungnya masalah itu telah teratasi hari ini sehingga aku bisa kembali menulis lagi saat ini.

***

Malam kemarin, tiba-tiba manajerku mengirimkan pesan padaku. Sebenarnya sudah menjadi mantan, karena manajerku telah mengundurkan diri dari perusahaan yang menaungi kami, Kapitulis. Meski begitu, kami masih tetap berkomunikasi dengan baik. Eits, bukan berarti manajerku keluar secara tidak baik-baik. Enggak begitu. Ini karena sibuknya jadwal manajerku yang juga menjadi manajer Juru Bicara Gugus Tugas COVID-19, dr. Reisa Broto Asmoro. Agenda yang padat mesti bolak-balik Istana Negara, juga terbang ke berbagai kota membuat manajerku kewalahan serta tak bisa melayani calon-calon klien dengan maksimal. Daripada nantinya akan mengecewakan, maka dari itu manajerku memutuskan mengundurkan diri demi kebaikan semuanya. Salut! Meskipun sedih karena sudah nyaman dimanajeri oleh beliau.

Balik lagi ke malam kemarin. Manajerku memberitahu kalau ada salah satu stasiun televisi besar tanah air ingin mewawancarai seputar profesiku sebagai seorang penulis. Reaksiku sama seperti penggalan lirik lagu ‘makan daging anjing dengan sayur kol’ alias terkejut abang terheran-heran! Perasaanku berkecamuk campur aduk. Ada senangnya, ada deg-degannya, ada juga mindernya. Dari semua itu, rasa minder jauh lebih mendominasi. Iya, minder. Aku berpikir cukup panjang; bertanya pada diri sendiri. Apakah aku layak untuk menerima tawaran ini?

Manajerku juga memberikan tautan contoh program yang pernah tayang. Kulihat beberapa episode lain. Minderku makin tak terkendali. Beberapa narasumber yang sudah pernah tampil di program itu—rata-rata konten kreator, namanya sudah cukup dikenal di salah satu platform yang kini sedang berjaya. Itu membuatku mempertanyakan diriku sendiri. Kenapa pihak televisi itu memberikan tawaran ini padaku? Jelas masih banyak nama-nama lain yang lebih layak dan tentunya bisa mendongkrak views di media sosial. Sedangkan aku? Siapalah aku? Ini bukan merendah untuk meroket, tetapi kenyataannya memang begitu. Aku hanya seorang penulis yang namanya sudah redup karena hiatus berkarya hampir lima tahun dan baru mulai aktif kembali belakangan; itu pun masih belum mengangkatku pada puncak yang sempat kuraih dalam hidupku, lima tahun lalu. Belum sampai puncak malahan.

Aku seperti memulai semuanya dari awal lagi. Merintis dari nol dan mulai membangun konsistensi menulis seperti dahulu sebelum akhirnya kembali menulis buku. Oh iya, ngomong-ngomong soal buku, sebenarnya draft naskahku sudah hampir selesai dan sudah direncanakan terbit tahun ini. Namun karena satu hal, membuatku mau tak mau harus mengurungkan niat. Nanti akan kujelaskan cerita detailnya.

Malam itu, aku juga melempar pertanyaan yang sama pada manajerku “Tapi aku layak ngga sih, Mba?” 

Aku tahu ini bukan sikap yang baik; selalu merasa diri rendah dan tak layak untuk siapapun. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tak bisa mengusir perasaan itu. Ia sudah menguasai sebagian diriku. Mungkin karena aku sadar kalau aku sudah ditinggalkan oleh pembaca-pembacaku yang dulu sempat menjadi pembaca aktif dan tak lelah menagih tulisan-tulisan baru dariku. Iya, ditinggalkan. Aku menyadari betul hal ini. Ketidak aktifanku dalam menulis seperti dahulu, membuat satu persatu mulai pergi. Barangkali ada bacaan-bacaan dari penulis lain yang jauh lebih menarik. Jika menjadi mereka, aku pun akan melakukan hal yang sama. Daripada harus menunggu seorang penulis yang tak lagi menulis, lebih baik mencari bacaan dari penulis lain untuk dinikmati sebagai pelepas dahaga dari harusnya menenggak kata-kata.

Memang salahku. Aku yang tak fokus meniti karier sebagai penulis. Padahal namaku belum besar-besar amat seperti penulis-penulis lain yang kukenal.

Inilah dampak dari angka-angka di media sosial. Energiku dihabiskan untuk memperbagus insight akun agar brand atau agency berkenan mengajakku bekerja sama. Waktuku dihabiskan untuk menulis konten yang sesuai dengan pasar agar mendapat like, retweet, dan comment demi menaikkan engagement. Semua itu membuatku melupakan jalan yang mestinya kutempuh; menjadi seorang penulis dengan menuliskan banyak buku yang nantinya akan menjadi karya paling abadi untuk pembacanya. 

Kini, seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku merintis kembali dari nol. Anggap Dayat Piliang itu bukan siapa-siapa. Dayat Piliang hanya seorang pemuda biasa yang mulai gemar belajar menulis dan mencoba membagikan sesuatu yang bermanfaat untuk dibaca orang-orang. Bukan siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa. Ia hanya sedang konsisten menulis untuk menemukan para pembacanya yang entah siapa. Mungkin kamu yang sedang membaca ini salah satunya.

Setelah diyakinkan oleh manajerku dan diberikan kata-kata kalau aku layak untuk menerimanya, penawaran dari stasiun televisi itu pun segera kuiyakan. Ini adalah Dayat yang baru. Dayat yang sedang memulai karier, yang kebetulan mendapat satu keberuntungan pertama untuk hadir mengisi wawancara di program Youtube televisi swasta di Indonesia. Dayat yang semoga bisa konsisten untuk meraih impiannya menjadi seorang penulis yang memberikan banyak makna lewat kata-kata; atau setidaknya bisa mewakili isi hati dari para pembacanya.

Jadi, apakah aku layak? Kalau itu belum bisa kujawab dengan pasti. Namun yang pasti, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi layak!

ditulis hari rabu, tanggal 23 november 2022, pukul tujuh malam, di kota medan.

Dukungan untuk Penulis

Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!

Tinggalkan komentar