Laki-laki tak melulu harus menjadi pencari nafkah dan perempuan tak melulu harus menjadi ibu rumah tangga. Sebuah perdebatan panas yang entah ke mana arahnya.
Sedikit catatan: mohon tenangkan hati dan kosongkan gelas pikiran saat membaca tulisan ini agar tak ikut-ikut terbawa emosi.
Jam sudah menunjukkan waktu pukul tiga, namun aku tak kunjung bisa memejamkan mata. Isi kepalaku terlalu berisik. Ada banyak hal yang membayang-bayangi pikiranku. Salah satu paling mengganggu perihal keributan yang terjadi di linimasa Twitter, kemarin. Daripada terus terjaga, rasanya aku harus mengeluarkan ini dari kepala supaya ruang pikiran bisa lebih lega dan gelisah yang melanda lekas mereda.
Ribut-ribut ini bermula dari cuitan yang diunggah oleh Magdalene, akun media yang selalu vokal menyuarakan hak-hak wanita; kesetaraan gender salah satunya. Dalam utas (cuitan panjang) itu, Magdalene sedang meluruska kesalahpahaman orang-orang tentang kesetaraan. Sebuah utas yang menarik dan baik untuk menambah wawasan kita. Tapi, bukan utas secara keseluruhan yang menimbulkan keibutan, melainkan salah satu bagiannya. Yup, sesuai dengan judul di atas; perihal nafkah.
Magdalene menuliskan, “Laki-laki enggak harus selalu jadi pencari nafkah utama,”
“Dalam budaya patriarki, laki-laki dituntut untuk jadi pihak yang harus menghidupi perempuan, sedangkan perempuan tugasnya melayani selama mereka mencari nafkah. Padahal, di banyak kasus perempuan juga ingin bekerja.”
“Konsep kesetaraan gender justru menekankan bahwa laki-laki enggak harus selalu jadi pencari nafkah utama, tetapi bisa berbagi tugas dan dijalankan atas dasar kerja sama. Saling menghargai sebagai sesama manusia.” tulis Magdalene.
Kemudian, cuitan itu direspon oleh salah satu akun yang mengatakan kalau kasus seperti yang dijelaskan Magdalene ini tidak relate dengannya. Akun itu menjelaskan “sebagai istri dan mantan wanita karut sih aku prefer di rumah doang. Nonton drama korea dan anime, check out kapan saja, kalau bosan tinggal nongkrong, ongkang-ongkang kaki tabungan keisi.”
Sampai di sini tak ada masalah besar, masih wajar. Toh wanita itu sedang menceritakan hidup yang ia jalani sebagai seorang istri. Sah-sah saja, kan? Yup, aku pun setuju. Sah-sah saja, karena itu hak dia. Tapi, kata-kata setelahnya yang akhirnya membuat perdebatan ini pecah dan menjadi keributan yang tak terarah. Sebagian orang meresponnya dengan memberikan pandangan, sebagian lain—yang jelas jumlahnya lebih banyak—segera menyerang dengan berbagai macam jenis argumen ‘tak santai’.
“istri pintar cari duit, cuma akal-akalan suami tidak mapan. kata mertuaku” tulis akun itu.
Warganet yang mudah panas seolah-olah mendengar gemuruh tabuh tambur menandakan siap untuk berperang. Senjata argumen ditembakkan membabi buta. Ada yang tepat sasaran, ada pula yang meleset dari topik pembicaraan. Sama seperti dalam peperangan, panik dan amarah jika menguasai diri akan berdampak pada hilangnya akal sehat dan tipisnya empati untuk kita saling memahami pendapat masing-masing. Semua sibuk ingin memenangkan argumennya. Tak hanya yang menyerang, yang diserang pun melakukan hal serupa.
Padahal, jika kita sedikit lebih tenang, kita akan menemukan titik terang untuk sama-sama memenangkan argumen masing-masing. Tak perlu harus sama-sama setuju, setidaknya keduanya saling menerima kalau kita hidup dengan beragam pikiran yang berbeda-beda. Dan perlu kita ingat kalau pikiran kita tak mesti harus seragam. Selama tak merugikan orang lain, tak perlu disalahpaham.
***
Aku coba jelaskan menurut sudut pandangku.
Pertama, tulisan dari Magdalene sebenarnya tak ada salahnya. Kata-kata yang dipilih juga sudah tepat; ‘laki-laki enggak harus selalu jadi pencari nafkah utama’. Artinya, kalau ada yang mau menganggap itu keharusan juga tak apa. Selama keduanya sepakat dengan konsep itu, tak ada salahnya. Konsep yang dijelaskan perihal ‘laki-laki enggak harus selalu jadi pencari nafkah utama, tapi bisa berbagi tugas dan dijalankan atas dasar kerja sama’ ini juga baik dan ada benarnya. Kan di situ ada unsur kesepakatan kerja sama. Bukankah ini tidak bersifat mutlak. Harus ada kesepakatan antar keduanya.
Mungkin beberapa kalian ada yang terganggu dengan penjelasanku di atas dan mengait-ngaitkannya dengan pandangan agama. Tenang, nanti akan kujelaskan.
Kedua, respon dari salah satu akun itu sebenarnya tak salah-salah juga. Mau dia jadi menjalani hidupya sebagai istri yang tidak bekerja, menghabiskan waktunya di rumah dengan menonton drama korea, anime, belanja online, ongkang-ongkang kaki, dan sesekali nongkrong, ya tak apa juga. Haknya. Namun salahnya di sini, wanita itu mengutip kata-kata dari mertuanya yang kesannya menyerang dan merendahkan orang-orang yang punya pandangan lain; ‘istri pintar cari duit, cuma akal-akalan suami tidak mapan’. Jelas, ini salah karena kesannya menghakimi.
Cobalah kita tenang sejenak dan saling menerima beragam sudut pandang orang lain. Kan kita tidak menjalani hidup dalam situasi, kondisi, serta ruang lingkup yang sama dengan orang lain. Kan wawasan kita juga tak sama dan tak selalu setara dengan orang lain. Kan cara pandang kita terhadap beragam hal yang ada di dunia ini juga tak selalu sama dengan orang lain. Jadi, jangan sampai kita hanya menggunakan sudut pandang pribadi. Bukankah mestinya topik ini kita jadikan sarana diskusi untuk memperkaya sudut pandang? Bukan malah ke-trigger dan menggebu-gebu ingin memamerkan argumen yang kita pikir paling keren dan paling benar.
Kalau pendapatku, seorang wanita punya pilihan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga dan juga sah-sah saja untuk menjadi wanita karir. Begitu pula dengan laki-laki. Ini perihal kesepakatan bersama saja. Kalau nyatanya tak sesuai, ya cari pasangan yang bisa diajak bersepakat sesuai dengan keinginan yang ingin kau capai ketika hendak menjalani bahtera rumah tangga. Menjadi sepasang kan mestinya saling mengerti dan saling memahami. Tak harus siapa yang mestinya lebih dominan. Keduanya harus bisa sama-sama meredakan ego masing-masing demi mewujudkan impian bersama. Semua bebas memilih cara seperti apa yang diinginkan.
Nah, bicara perihal pandangan agama, memang benar yang berkewajiban memberi nafkah adalah suami. Tetapi, ulama kontemporer pun punya pendapat lain perihal ini. Ulama kontemporer berpendapat akad nikah itu lebih layak disebut dengan akad musyarakah, yang artinya dalam akad musyarakah, kewajiban nafkah tak secara mutlak dibebankan kepada suami, akan tetapi berdasarkan kesepakatan antara suami-istri itu sendiri. Bukankah Nabi Muhammad ketika beristrikan Bunda Khadijah, beliau didukung penuh oleh Bunda Khadijah yang memiliki sumbangsih luar biasa dalam mengerahkan hartanya di jalan Allah untuk membantu dakwah sang suami? Ketika Rasulullah bersama Bunda Khadijah tak ada rekam sejarah maupun hadis yang menjelaskan pekerjaan Rasulullah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Itu artinya besar kemungkinan kebutuhan keluarga ketika itu terpenuhi dari harta sang istri, Bunda Khadijah. Tak ada masalah terkait hal itu, toh tentu keduanya pasti telah bersepakat akan hal itu.
Oh iya, aku ingin ngingetin sekali lagi. Jangan jadikan perdebatan, ya. Tenang, santai, kalem. Enggak semuanya harus direspon dengan marah-marah.
***
Jadi, daripada ribut-ribut memperdebatkan sesuatu yang tak mutlak, bukankah alangkah baiknya waktunya digunakan untuk lebih mengenal diri sendiri? Hidup seperti apa yang kita inginkan dalam pernikahan? Jika sudah tahu, maka carilah kriteria pasangan sesua dengan apa yang kita inginkan. Misal, apakah kita ingin pasangan yang suka mengatur-atur? Kalau suka, carilah pasangan seperti itu. Kalau tak suka, ya jangan sampai memilih orang seperti itu. Semua perihal kecocokan. Maka dari itu, mestinya obrolan sebelum pernikahan itu perlu dibangun sedemikian rupa agar ikatan pernikahan yang suci itu tak goyah karena perbedaan pandangan.
Balik lagi ke pembahasan di atas, semua pendapat mereka tak ada salahnya. Karena yang salah itu jika kita merendahkan pendapat seseorang dan menyalahkan cara hidup yang dijalani oleh seseorang dengan mudahnya.
Terkahir, inti dari pendapat di atas, apapun keinginan dalam rumah tangga yang diimpikan, semuanya mesti sama-sama berusaha.
Baiklah, begitu saja untuk hari ini.
Sampai bertemu di tulisan-tulisanku selanjutnya.
Dukungan untuk Penulis
Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!

Tinggalkan komentar