Kemarin malam, aku berbincang hingga pukul dua dini hari bersama teman-teman followers di Twitter. Salah satu dari mereka ada yang melempar tanya padaku perihal patah hati paling menyakitkan yang pernah kurasakan. Jujur, saat itu kepalaku kosong. Aku mendadak lupa kisah patah apa saja yang pernah kurasakan, apalagi yang paling menyakitkan. Akhirnya, aku menceritakan salah satu kisah tentang ditinggal nikah. Dan akan kuceritakan juga di sini.
Bukan paling menyakitkan, sih. Karena aku tak ingat juga apa yang paling menyakitkan. Mungkin inilah efek dari mati rasa itu. Tak lagi bisa mengingat sakit-sakit terdahulu.
Ini cerita tentang bunga. Wanita yang kusuka di tempat kerja.
Kala itu aku bekerja di salah satu brand fashion cukup ternama di Indonesia. Posisiku sebagai social media specialist, bertugas mengelola seluruh aset sosial media perusahaan. Mulai dari membuat planning konten hingga melakukan kegiatan beriklan di internet. Salah satunya ketika perusahaan membuka lowongan pekerjaan untuk mencari desainer pakaian. Memang benar itu tugas HRD, tetapi karena informasi lowongan pekerjaan itu mesti diimbau melalui internet, maka aku juga terlibat membantu pekerjaan HRD. Di sinilah kisah bermula.
Di antara banyaknya pelamar yang kami wawancara, (iya, kami. Aku ikut terlibat sampai semua proses rekrutmen selesai karena saat itu kamu sedang kekurangan orang) akhirnya terpilihlah satu orang. Dialah Bunga, wanita yang di hari pertamanya bekerja sudah berhasil mengalihkan pandangku dari luka yang pernah kurasakan beberapa tahun lalu; cinta tak terbalas yang masih menyisakan luka yang tak kunjung sembuh.
Sebenarnya, aku tak langsung teralihkan begitu saja. Ada beberapa tahapan sebelum aku benar-benar tertarik dengannya.
Aku mulai menaruh perhatian padanya. Melihat gerak-geriknya dari kejauhan, sesekali memberikan bantuan jika ia sedang kebingungan. Maklum masih baru. Meski ia junior di kantor, namun usianya sedikit lebih senior dariku. Tapi, tak ada ketimpangan di antara kami. Terlihat sama. Entah karena dia yang memang terlihat lebih muda dari usianya atau aku yang terlalu boros hingga terlihat sepantaran dengan usianya.
Kami di divisi yang berbeda. Ia desainer pakaian dan aku social media specialist. Tak ada keterkaitan antara pekerjaan kami. Peluang untuk dekat juga kecil. Namun satu tugas dari atasan memaksa kami untuk bekerja sama. Saat itu perusahaan hendak membuat film dokumenter yang menceritakan sejarah awal perusahaan ini dibentuk oleh pemilik bisnis. Perusahaan merekrut produser dan sutradara khusus dari luar. Sebenarnya produser dan sutradara itu sudah menyertakan timnya, namun karena terbatasnya budget, jadi beberapa tim mereka ada yang dipangkas dan diganti dengan beberapa orang dari kami.
Aku ditugaskan sebagai script continuity dan Bunga sebagai line produser. Saat itu aku tak mengerti apa itu script continuity. Namun bapak sutradara menjelaskan dengan sederhana, aku disuruh mencatat secara tertulis kata demi kata seluruh isi rekaman wawancara narasumber yang terlibat sebagai bahan rujukan mana saja pembicaraan yang harus dipotong dan mana yang tidak. Setidaknya itu yang tugas awalku. Namun menjelang shooting hari pertama, aku mendapat pekerjaan lain sebagai soundman, bertugas untuk merekam dan bertanggung jawab dengan audio selama proses shooting berlangsung. Tak apa pikirku saat itu. Setidaknya di proyek ini, aku bisa lebih dekat dengan Bunga. Hitung-hitung menambah pengalamanku juga. Kalau Bunga bertugas untuk mengurus kebutuhan proses shooting. Mulai dari konsumsi dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Dikarenakan jadwal shooting yang beragam, kami ditempatkan dalam satu markas demi mempermudah koordinasi. Kami mesti merekam kegiatan direktur, kegiatan pemilik bisnis, dan beberapa orang lain yang terlibat di awal-awal perusahaan terbentuk. Melakukan wawancara dan banyak hal lainnya.
Namun tidak dengan Bunga. Karena dia wanita satu-satunya di proyek ini, ia tidak ikut menginap di markas. Ia mesti pulang ke rumah dan datang pagi-pagi sekali sebelum kami semua mulai bekerja. Inilah satu hal yang semakin mendekatkanku dengan Bunga. Di proyek ini, hanya aku yang Bunga kenal. Maka dari itu, dia lebih intens berkomunikasi denganku. Sesekali aku juga mengantarkannya pulang ke rumah. Beberapa kali juga aku bertemu dengan ayahnya di rumah. Cukup untuk mengenal orang tuanya karena ada kesamaan obrolan yang tak mungkin kujelaskan dengan detail di sini.
Kami semakin dekat. Lebih dari dekat. Bahkan kami punya kesamaan; sama-sama merasa nyaman ketika bersama. Itu sama-sama kami akui secara lisan, tak sebatas sangkaan. Kedekatan itu membuat aku lupa kalau ia juga sedang berada dalam sebuah hubungan dengan seseorang; laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuanya. Tidak, orang tuanya tak memaksakan perjodohan itu. Namun dikarenakan Bunga sempat beberapa kali gagal dalam asmaranya, akhirnya orang tua Bunga berinisiatif mengenalkannya pada satu pria untuk kelak menjadi pasangannya.
Bunga mengakui kalau mereka tidak pacaran, baru proses menuju dekat katanya. Itu artinya, aku masih punya ruang dan peluang. Namun, ini juga menjadi satu permasalahan besar.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, usia Bunga di atas usiaku. Usianya sudah memasuki masa di mana tahapan hubungan bukan lagi untuk pacaran, tetapi untuk tujuan pernikahan. Dan laki-laki yang dikenalkan orang tuanya itu tentu usianya di atas Bunga; matang dari segi usia juga finansial. Pilihan yang tepat untuk lekas berumah tangga. Sedangkan aku, tidak. Ini membuatku perlahan harus mundur.
Tapi, Bunga tak menginginkanku pergi sepenuhnya. Ia ingin kami tetap berhubungan; seperti kakak dan adik, katanya. Begitu sulit situasi yang kuhadapi.
***
Akhirnya Bunga pun menikah.
Suatu hari, menuju hari pernikahannya. Ada satu kejadian yang membuat aku dan Bunga menjadi renggang. Itu menjadikan kami berjarak dan mulai menjadi asing satu sama lain. Di kantor, kami bertegur sapa seperlunya. Sekadar ada kebutuhan saja. Kebetulan waktu itu aku sudah ditugaskan untuk menjadi asisten direktur. Itu artinya aku jarang berada di kantor. Ini baik untuk kami. Jarang bertemu akan membuat Bunga merasa lebih nyaman pergi bekerja.
Tak banyak kisah yang bisa diceritakan setelahnya. Aku yang tak lagi dekat dengannya membuat kami jarang bersama. Tak seperti dulu. Dekat, bahkan sudah mengenal keluarganya; ayah dan kakaknya.
Sampailah masa di mana hari pernikahannya semakin dekat. Semua sudah mendapat undangan pernikahannya. Aku belum. Mungkin karena jarang berada di kantor. Atau mungkin karena ia tak menginginkanku hadir di hari pernikahannya. Tak tahu pasti.
Suatu malam, ketika aku baru pulang dari agenda kerja di luar kota, aku menyempatkan mampir ke kantor untuk memastikan beberapa hal terkait pekerjaan. Beberapa karyawan masih ada di sana. Aku bergegas menuju meja kerja dan kudapati undangan pernikahan itu; undangan pernikahan Bunga. Jujur, aku sedikit terkejut saat itu. Kenapa aku diundang?
Kemudian rekan kerja yang ada di sana mempertanyakan apakah aku akan hadir atau tidak. Aku menjawab sederhana namun tak sesederhana yang dikira. Jika Bunga memberiku undangan, ada dua kemungkinan. Pertama, Bunga tahu pasti aku tak akan menghadiri pernikahannya, maka ia memberikan undangan sebatas formalitas agar orang-orang kantor tidak curiga. Kemungkinan lainnya, Bunga sudah melupakan segala kenang tentang kami dan siap jika aku hadir di hari pernikahannya dan ia percaya kalau aku tak akan berbuat macam-macam ketika datang di acara pernikahannya.
Aku akan datang.
***
Waktu menunjukkan pukul sepuluh. Aku sudah bersiap dengan baju batik yang kubuat spesial demi menghadiri pernikahannya. Baju batik yang kain bahannya kubeli ketika aku sedang ada agenda kerja di Malang Kota, kemudian kain bahan itu kuberikan pada penjahit langganan di Kota Bogor. Dan kini sudah terpasang rapi membalut tubuhku.
Aku berangkat dari kantor pusat. Sudah janjian dengan rekan. Dengan menggunakan mobil kantor, kami berangkat menuju kantor produksi sebelum menuju lokasi pernikahannya. Ada beberapa rekan lain yang hendak ikut dan kami harus menjemput mereka. Tak apa. Lagi pula memang searah.
Di tengah-tengah perjalanan, langit yang tadinya cerah mendadak mendung dan menurunkan rintik-rintik hujan. Aku tak tahu pasti apa artinya. Barangkali semesta menyuruhku untuk melepaskan tangis supaya aku lega. Tidak. Aku kuat. Aku tak akan menangis hanya karena cuaca menggodaku dengan menciptakan suasana menjadi sendu.
Di mobil, tak banyak obrolan. Aku duduk di bangku penumpang bagian depan. Rekanku yang berperan membawa kendaraan, reflek menghidupkan radio. Setelah penyiar selesai bicara, terdengar lantunan piano disusul dengan suara Duta ‘aku tak percaya lagi, dengan apa yang kau beri, aku terdampar di sini, tersudut menunggu mati’. Ya, benar sekali. Itu lagu dari Sheila on 7 dengan judul Berhenti Berharap. Di tengah-tengah mendung, rintik, juga menuju perjalanan tempat pernikahan. Semesta benar-benar luar biasa dalam bercanda. Ia menciptakan suasana yang pas untuk aku menikmati kesedihan; melihat Bunga bahagia dengan pernikahannya di hari aku merana kehilangannya. Perlahan tangisku pecah. Namun lekas kualihkan. Malu dengan rekanku.
Akhirnya kami sampai di lokasi pernikahan yang berada di rumahnya. Letaknya di sebuah daerah yang tak jauh namun juga tak bisa dibilang dekat dari kota. Rute yang sangat kuhafal, bahkan sampai lobang-lobang jalanannya. Aku turun dari mobil, kemudian melangkahkan kaki menuju tempat resepsi. Disambut sapaan hangat oleh petugas yang menjaga buku tamu. Kutulis namaku di situ. Aku diberikan souvernir pernikahan yang kini entah di mana keberadaannya. Rekan-rekan lain yang tahu kisah aku dan Bunga, menggodaku. Aku hanya membalas dengan senyum. Aku tak ingin ada masalah yang terjadi sebab hadirku. Seperti yang sering terlihat pada video-video Tiktok ketika seseorang datang ke pernikahan mantannya. Menurutku tak elok seperti itu. Bahkan untuk sekadar bikin konten. Kan itu acara orang, tak semestinya kita mengganggu dengan menghadirkan drama-drama yang sebenarnya tak perlu. Apalagi sekadar untuk bikin konten. Jangan. Biarlah perhatian tertuju pada mempelai. Jangan curi spotlight mereka di hari pernikahannya.
Selepas makan, kami sepakat untuk pulang. Inilah detik-detik menegangkan dari semua keseluruhan cerita; aku mesti bersalaman dengan mempelai pria dan wanita. Kami mengantre menuju pelaminan. Rekan-rekan lain makin intens menggodaku. Aku abaikan. Semakin dekat, jantung makin berdegup cepat. Aku coba mengatur nafas supaya rileks. Sedikit membaik namun tak berhasil sepenuhnya.
Sesampainya di pelaminan, aku dihadapkan dengan ayahnya Bunga. Seolah mengerti dengan perasaanku, ayah Bunga dengan lekas memelukku sambil mengusap-usap punggungku. Kaget bukan main. Sejauh apa ayah Bunga tahu tentang kami? Kalau kakaknya sudah jelas lebih tahu. Tapi ayahnya? Sungguh di luar dugaan. Kucoba mengendalikan diri untuk tetap tenang. Ayah Bunga melepas pelukannya, kusalami, kemudian beralih posisi. Kali ini dihadapkan dengan sosok laki-laki yang akan mendampingi Bunga seumur hidup. Setidaknya itu ikrarnya dalam ijab kabul. Kujabat tangan laki-laki itu dengan erat seraya mengucapkan selamat. Ia senyum dan mengucapkan terima kasih. Kemudian aku beralih ke Bunga. Aku tak bisa menatapnya. Kusalami ia tanpa bersentuhan, seperti salaman seorang pemuda alim pada wanita yang bukan mahramnya. Tak lama, aku bergegas turun dari sana.
Sungguh tak ada hari yang lebih lega dari hari itu. Plong rasanya. Langkah kaki pun jauh lebih ringan dari sebelumnya. Benar-benar hari yang membahagiakan meski nyatanya aku tak bertatap dan tak mengucap sepatah dua patah kata pada Bunga. Mestinya saat itu aku menunjukkan rasa bahagia dengan kata-kata baik dan mendoakannya. Tak apa. Bunga pasti mengerti. Bagaimanapun aku bersikap, ia pasti tahu tujuanku adalah yang terbaik untuknya. Pastilah Bunga paham kalau aku mendoakan yang baik-baik untuk hidupnya.
Sekian cerita patah ditinggal nikah.
Sampai bertemu di tulisan-tulisanku selanjutnya.
ditulis hari rabu, 16 november 2022, menjelang pukul delapan malam, di kota medan.
Dukungan untuk Penulis
Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!
Tinggalkan komentar