Perselingkuhan tak ada habisnya, ia akan selalu ada dan terjadi berulang kali selama manusia tak bisa mengendalikan nafsunya.
Cukup sering aku mendapati cerita dari pembaca perihal kekasih mereka yang hatinya tak hanya ada dia saja, namun ada orang lain yang menempati ruang serta bayang-bayang dalam kepalanya. Tak hanya cerita dari pembaca, orang-orang terdekatku pun banyak yang pernah merasakan; Ibu, bibi, juga sepupu. Mereka pernah diduakan dengan wanita lain sampai menghancurkan rumah tangga mereka; kecuali sepupuku yang memutuskan untuk memberi suaminya maaf.
Bicara perihal perselingkuhan selalu berhasil membuatku kesal. Namun ketika menuliskan ini, aku berusaha untuk objektif agar bisa memberikan pandangan yang barangkali bisa lebih adil untuk kedua belah pihak; pelaku dan korban. Namun tetap saja, perselingkuhan—apapun alasannya, tetap tidak bisa dibenarkan dan jangan pernah memberi ruang untuk mereka yang berkhianat pada komitmen yang telah kalian buat; yang kalian bangun susah payah sedari awal.
Memberi maaf mungkin boleh, tetapi menerimanya kembali jelas tidak. Jika kau kembali menerima, itu artinya kau memberi ruang pada pelaku untuk melakukan hal yang sama.
Iya, aku tahu, tidak semua akan mengulanginya. Akan tetapi, siapa yang bisa menjamin kejadian itu tak lagi akan terulang? Toh para pelaku tak pernah mengaku ketika mereka melakukan hal itu. Pelaku akan meminta maaf dan pengampunan ketika apa yang mereka lakukan akhirnya ketahuan. Jika tidak? Tentu mereka tetap melanjutkan prilaku biadapnya itu.
Menuliskan perihal ini bukan berarti aku manusia paling suci—yang tak tertarik pada lawan jenis lain ketika aku sedang berada dalam sebuah komitmen dengan wanita yang telah kupilih. Sebagai manusia biasa, pastilah kita punya ketertarikan pada orang lain. Kan ini memang dosa dasar manusia. Namun setelahnya kan bagaimana kita menyikapinya; apakah memilih untuk larut pada perasaan itu (entah perasaan suka atau nafsu) kemudian menduakan kekasih yang telah kau pilih secara sadar atau menahan diri dengan mengabaikan ketertarikan itu dan menganggap itu hanya sekadar angin lalu, sekadar godaan yang tentunya bisa kita tahan sebagai manusia yang punya akal. Pilihan ada pada kita sebagai makhluk yang diberikan akal pikiran.
Aku mau kasih satu analogi yang sebenarnya tak apple to apple tapi cocok untuk dipertimbangkan. Ini sama seperti membunuh. Aku yakin dalam kepala kita pasti punya keinginan untuk membunuh orang yang paling kita benci, namun yang membedakan kita dengan pembunuh adalah, pembunuh melakukan hal itu sedangkan kita memilih untuk tetap menempatkan pikiran itu di dalam kepala saja dan tidak melakukan tindakan tercela. Begitu juga dengan perselingkuhan, sudah dapat dipastikan itu tindakan yang dilakukan secara sadar.
Lantas, apa yang kau harapkan dari seseorang yang tak bisa mengendalikan perasaan dan nafsunya?
Perlu diingat kalau apa yang kutuliskan di sini tak bisa menjadi patokan yang mengharuskanmu atau seluruh orang di bumi untuk tidak memberikan maaf dan ruang pada seseorang yang telah menduakanmu. Itu semua pilihanmu sebagai manusia yang punya hati dan akal. Berkenan memaafkan kemudian menerimanya kembali atau memilih untuk pergi meninggalkan manusia dengan pikiran pendek seperti itu?
Aku juga pernah mendapati seorang pembaca yang memaafkan pasangannya dengan harapan kekasihnya akan berubah dan tak mengulanginya. Tahu apa yang terjadi setelahnya? Kekasihnya mengulangi hal yang sama sampai tiga kali pada orang yang berbeda-beda. Ketahuan lalu dimaafkan, ketahuan lagi lalu dimaafkan, ketahuan lagi dan lagi lalu dimaafkan lagi untuk yang kesekian kali. Ujung-ujungnya apa? Dia menjadi stress dan depresi hidup dalam keadaan seperti itu.
Ada pula seorang teman yang memaafkan pasangannya atas dasar menyalahkan dirinya sendiri yang penuh dengan kurang sehingga ia kembali memberikan ruang hatinya untuk tetap ditempati oleh kekasih yang telah menduakannya. Ini logika berpikir yang salah.
Jika ada kurang dari pasangan yang ternyata tak bisa diterima, mengapa sedari awal dia menjalin hubungan dengannya? Berkomitmen dengan satu orang itu tandanya kau siap menerima kurang dan lebihnya. Jika kau hanya menerima lebihnya saja dan selalu mengeluhkan kekurangannya, itu salahmu untuk tetap bertahan dan memilih berselingkuh dengan orang lain yang kau pikir bisa melengkapi kurang yang selama ini kau rasakan dari pasanganmu. Kalau memang tak lagi nyaman, jangan diduakan. Baiknya dibicarkan. Kalaupun tak tertolong lagi, lebih baik pisah daripada kau menyakitinya dengan menghadirkan orang ketiga di antara hubungamu dengannya.
***
Untukmu, si orang yang suka merasa bersalah ketika ada seseorang yang menyakitimu; yang selalu merasa perlakuan itu kau dapatkan disebabkan oleh dirimu, pada bagian ini kau tak perlu menyalahkan diri sendiri. Jangan. Itu bukan salahmu. Jangan salahkan diri sendiri karena merasa kurang dan belum bisa memberikan yang terbaik untuk pasangan. Itu salah pasanganmu! Jangan coba-coba kembali menerima karena rasa bersalah. Karena bukan dirimu yang salah.
Untuk tukang selingkuh, sadarlah. Daripada kau menduakan seseorang karena alasan ada yang kurang daripasanganmu, lebih baik kau memutuskan hubungan yang sudah kau bangun susah payah itu. Jangan rakus, jangan serakah. Kau harus memilih satu. Jangan menduakan seseorang yang tidak bersalah.
Terakhir, tulisan ini bukan menjadi patokan untukmu bersikap. Ini sekadar pandanganku yang barangkali bisa menjadi petimbanganmu ketika hal ini terjadi dalam hidupmu. Kan ketika kita berada dalam situasi ini, seringkali akal sehat dan logika kita mendadak mati.
Dukungan untuk Penulis
Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!
Tinggalkan komentar