Dahulu, aku kau banggakan.
Kemudian, aku kau tinggalkan.
Kini, kau ingin kembali pada hati
yang dahulu pernah kau hancurkan.
Maaf, enggak dulu.
“Aku menyesal meninggalkanmu” ujarmu.
Jujur, aku masih heran. Bagaimana kau bisa mengatakan sesal semudah itu sedangkan aku amat bersusah payah membangun kembali hati yang telah luluh lantak berantakan karenamu? Apakah semesta ini selalu berjalan sesuai dengan yang kau mau? Meninggalkanku dengan begitu mudahnya, kemudian kembali lagi dengan mengatakan kalimat penyesalan. Padahal, dahulu, kau meninggalkanku seolah-olah aku adalah pilihan yang salah.
Aku akui, bersamamu sempat aku merasakan bahagia. Tetapi, kini, tidak lagi. Luka yang kau torehkan dengan kepergianmu dahulu saja belum sembuh dengan sempurna, bagaimana bisa kau datang dan memintaku untuk kembali menjalin hubungan yang dahulu pernah kau hancurkan? Maaf, enggak dulu.
Mari kita berpikir realistis. Ketika kau meninggalkanku, jelas kau membanding-bandingkan aku dengan orang lain yang mungkin lebih sempurna menurutmu; tentu yang lebih disukai oleh kedua orang tuamu. Ragu yang hadir dalam dirimu juga menghadirkan rasa ketidakinginanmu dalam memperjuangkan hubungan yang sudah kita bangun sejak lama. Kau buat aku berjuang seorang diri mempertahankan hubungan ini, lalu di tengah-tengah perjuanganku, kau katakan kalau hubungan ini tak bisa dilanjutkan lagi karena aku berasal dari keluarga yang tak utuh.
Dan kini, kau memintaku kembali ke sisimu? Jelas tak akan.
Ingat, semesta tak selalu berjalan sesuai dengan yang kau inginkan.
Jika aku kembali ke sisimu, bukankah ini sama saja seperti aku membaca buku yang sama? Berkali-kali buku itu kubaca, endingnya tidak akan pernah berubah; semua akan berakhir sama seperti yang sudah-sudah. Yang berakhir dengan derita, akan tetap berakhir dengan derita jika aku kembali mengulang cerita pada orang yang sama.
Sekali lagi, maaf, ruang hatiku tak lagi bisa menerima hadirmu.
Dukungan untuk Penulis
Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!
Tinggalkan komentar